Rabu, 17 Desember 2014

Paradigma Integrasi dan Interkoneksi Dalam Perspektif Filsafat Islam

Ketika penulis mendapatkan tugas sebagai Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2002, konsep integrasi dan interkoneksi menjadi wacana yang aktual bagi kalangan akademisi di IAIN Sunan Kalijaga. Sebagai direktur ketika itu, maka penulis meresponnya dengan mengubah/menambah kurikulum yang ada, dengan menambah tiga mata kuliah yang dipandang sangat penting waktu itu, yaitu 1) metodologi penelitian filsafat, agama dan sosial, 2) agama, filsafat dan sains, dan 3) isu-isu global. Mata kuliah tersebut diajarkan dengan pendekatan intregratif dan interkonektif.
Ketiga mata kuliah ini menjadi bagian utama untuk melakukan integrasi dan interkoneksi yang dimulai dengan menata metodologinya terlebih dahulu, dengan menyatukan mata kuliah metodologi penelitian filsafat, agama dan sosial, yang diajarkan oleh masing-masing ahli di bidangnya, dengan harapan integrasi dan interkoneksi itu bisa dikembangkan dengan landasan metodologi yang mantap. Pada hakikatnya konsep integrasi dan interkoneksi harus dimulai dari integrasi dan interkoneksi metodologinya. Tanpa dasar metodologi yang kuat, maka integrasi dan interkoneksi hanya akan menjadi hal mengawang-awang, tidak jelas dan tidak pernah bisa membumi.
Kemudian mata kuliah agama, budaya dan sains diajarkan dengan tujuan untuk melihat sesuatu masalah dari pendekatan lintas agama, budaya dan sains, sehingga integrasi dan interkoneksi dengan sendirinya akan terbentuk dan terbawa dalam melihat setiap masalah kehidupan dan kemanusiaan. Matakuliah ini sangat penting, karena mata kuliah ini diharapkan dapat mengembangkan paradigma integrasi dan interkoneksi melalui pembentukan tradisi akademik yang berdimensi lintas agama, lintas budaya dan lintas sains, dan ini menjadi tuntutan menjawab problematika kontemporer yang tidak bisa didekati hanya dengan pendekatan tunggal keilmuan. Masalah kemiskinan, kesejahteraan dan perdamian tidak bisa dipecahkan dengan pendekatan tunggal, baik ekonomi semata-mata, demikian juga pendekatan tunggal sosial, politik, budaya mau pun agama.
Selanjutnya mata kuliah isu-isu global ditambahkan sebagai aktualisasi paradigma integrasi dan interkoneksi secara praksis untuk memahami, mendalami dan menganalisis problematika global sebagai fenomena aktual masa kini yang sudah merupakan fenomena global, yang mau tidak mau, pendekatan integrasi dan interkoneksi itu mutlak dipergunakan. Tanpa integrasi dan interkoneksi keilmuan, kita tidak mungkin dapat memahami dan memecahkan masalah-masalah global. Penulis sendiri waktu itu mengajar aspek budaya dalam sains dan agama, bersama dengan Prof Amin Abdulah aspek agama dan Prof Choiril Anwar dari Universitas Gadjah Mada aspek sains, dan penulis pada aspek kebudayaan.
FILSAFAT ISLAM SEBAGAI METODA
Menurut pandangan penulis, filsafat Islam mempunyai potensi aktual untuk mengintegrasikan dan menginterkoneksikan studi-studi keislaman secara praksis. Tanpa dasar filsafat Islam, rasanya sulit untuk dapat mengintegrasikan dan menginterkoneksikan ilmu-ilmu keislaman. Dalam tahap ini, filsafat Islam harus diletakkan sebagai metodologi berpikir, bukan diletakkan pada kajian tokoh-tokohnya dan pemikirannya saja, atau hanya fokus pada tema-tema filsafat saja serta periodisasinya.
Pada hakikatnya setiap studi keislaman, selalu mempunyai dasar filsafatnya sendiri-sendiri. Dalam sejarah perkembangan ilmu, filsafat adalah induk dari setiap ilmu pengetahuan. Karena itu setiap cabang ilmu sesungguhnya mempunyai landasan filsafatnya sendiri sendiri. Ilmu hukum dengan filsafat hukumnya, demikian juga filsafat eknonomi untuk ilmu ekonomi, fisafat politik untuk ilmu politik, juga arsitektur dengan filsafat arsitekturnya dan seterusnya.
Filsafat Islam sebagai metoda, akan mengintegrasikan dan menginterkoneksikan studi-studi keislaman dalam suatu world view yang multidimensional. Dalam buku “Filsafat Islam Sunah Nabi Dalam Berpikir” penulis menyusun cara berpikir Islam yang dikonstruk dari tradisi berpikir Nabi sendiri dalam menjawab berbagai kasus. Dalam sejarah kenabian, terlihat bahwa para nabi dalam menjawab suatu masalah,tidak selamanya bergantung pada wahyu. Demikina juga yang dialami nabi Muhammad Saw., terutama dalam tradisi berpikir beliau sebelum usia empat puluh tahun, atau sebelum beliau menerima wahyu, sedangkan setelah usia empat puluh tahun itu berada dalam konstruksi dialektik antara aqal dan wahyu. Alquran 62:2 dijelaskan yang artinya sebagai berikut : “Dia (Allah) yang mengutus di antara orang-orang ummi, seorang Rasul dari kalangan mereka, yang menjelaskan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya adalah dalam kesesatan yang nyata”.
Dalam pandangan penulis seorang Rasul itu mengajarkan Kitab yaitu turunnya wahyu yang diterima dari Tuhannya yang terjadi secara bertahap sesuai dengan tahapan kehidupan. Sedangkan hikmah, bisa diartikan sebagai penjelasan dan penjabaran yang bisa dimengerti umatnya tentang hakikat kebenaran wahyu yang diterimanya. Dalam kenabian Muhammad Saw., ada yang menyebut hikmah sebagai al hadits. Hikmah juga bisa diartikan sebagai pengetahuan yang mendalam, suatu kearifan yang terdapat di balik realitas, kejadian dan peristiwa. Dalam ungkapan sehari-hari, ketika seseorang dalam kehidupannya menghadapi suatu kejadian, peristiwa, musibah atau ujian, seringkali dikatakan untuk bisa mengambil hikmahnya.
Karena itu, hikmah bisa diartikan sebagai pengetahuan yang mendalam, suatu kearifan yang diperoleh dari balik pemahaman terhadap realitas, suatu wisdom yang lahir dari pemikiran seseorang yang mendalam dalam perjalanan hidupnya. Dengan kata lain, maka hikmah sesungguhnya dapat diartikan sebagai pengetahuan filsafat, yaitu pencapaian atas kebenaran melalui pemikiran radikal terhadap realitas. Dalam konteks kerasulan yang tugasnya mengajarkan kitab dan hikmah, maka pengajaran tentang hikmah ini bisa dipahami sebagai filsafat, karena seorang rasul dalam sejarahnya juga pengajar tentang hakikat kehidupan dan makna hidup bagi manusia, yang sebenarnya menjadi inti dari flsafat.
Alquran 2:269 dijelaskan yang artinya “ Allah anugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya dan barang siapa yang medapatkannya, ia benar-benar telah dianugerahi suatu kebaikan yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah (ulul albab) yang dapat mengerti”. Dalam konteks ini, maka seorang nabi adalah juga seorang yang mendapat pengetahuan hikmah, yang menjadi inti dari filsafat. Seorang nabi juga bisa disebut seorang filosuf sebagai pengajar himah atau filsafat yaitu pengajar hakikat kebenaran segala sesuatu dalam hidup dan menjalaninya.
Untuk mampu mengajarkan kitab yang dikembangkan dalamsuatu hikmah, maka seorang nabi pastinya mempunyai suatu model berpikir tertentu yang memungkinkannya menembus realitas dan menemukan hakikat kebenaran di balik realitas atau kejadian. Model berpikir tersebut dipakai untuk memahami dan mendalami kebenaran melalui integrasi “aql” dan “qalb”.
Dalam Alquran 22: 46 menjelaskan yang artinya “maka tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati mereka dapat memahami, telinga dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”.
Selanjutnya dalam Alquran 33 : 21 dijelaskan yang artinya “sungguh pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan pada hari kemudian, serta mereka banyak mengingat Allah. Keteladanan nabi yang utama bagi penulis bukanlah pada perbuatannya, seperti cara makan dan memelihara jenggot saja, tetapi keteladanan beliau pada pemikirannya, karena perbuatan adalah tindak lanjut dari pemikiran, pemikiran adalah ibu kandung perbuatan. Bahkan dalam prinsip etika, perbuatan yang tidak disertai pemikiran adalah pemikiran yang tidak disadari, maka perbuatan itu tidak termasuk ranah etika, seperti perbuatan orang yang kehilangan akal sehatnya atau perbuatan orang gila.
Paradigma integratif dan interkonektif sesungguhnya dapat dimungkinkan dengan integrasinya “aql” dan “qalb” sebagai suatu metoda berpikir untuk memahami realitas. Pendekatan integratif adalah pendekatan ulul’albab yang secara jelas digambarkan Alquran 3: 190-191 yang artinya sebagai berikut : “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda bagi ulul albab, yaitu mereka yang mengingat (zikir/qalb) tentang Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring dan memikirkan (aql, rasio) tentang penciptaan langit dan bumi ; ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia ; Mahasuci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksaan neraka.
Penjelasan Alquran di atas bisa dimengerti akan adanya proses rasional transcendental di mana 1) mengingat (zikir pada kekuasaan Allah) mendahului 2) berpikir untuk memahami dan mendalami semua ciptaanNya di langit dan di bumi,3) dan mencapai proses transendensi dengan 4) kesadaran tidak akan menyia-nyiakan semua ciptaanNya dan aktualitas perbuatan yang terhindar dari siksaan neraka. Ini menjadi metoda berpikir integratif dan interkonektif yang berada dalam jalan hidup seseorang untuk selalu mensyukuri dan menghindari siksaan neraka.
Karena itu, bagi penulis makna surat al fatihah yang dibaca setiap kali oleh seorang muslim ketika menjalankan solat, terutama saat membaca Alquran 1: 6-7 yang dijelaskan artinya : “tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang tersesat. Maka jalan lurus itu dapat dimengerti sebagai metoda berpikir yang secara konsisten dan lurus, kemudian diaktualisasikan dalam perbuatan yang memberikan manfaat bagi kehidupan bersama, akan menjadi nikmat, bukan laknat apalagi tersesat.
Filsafat Islam sebagai metoda berpikir menjadi dasar bagi peradigma integrative interkonektif, yang secara sistemik menyatukan antara aql, qalb, wahyu dan realitas menjadi suatu metodologi berpikir yang bersifat rasional transcendental, dan selalu berdimensi majemuk. Karena itu, filsafat Islam sebagai metode berpikir seperti yang dijelaskan di atas, akan menjadi dasar dalam merumuskan filsafat dalam studi-studi keislaman. Dalam kaitan ini, maka seharusnya dalam setiap fakultas diajarkan filsafat Islam sesuai dengan bidang kajiannya masing masing, seperti filsafat hukum Islam di fakultas syari’ah, filsafat pendidikan Islam di fakultas tarbiyah, filsafat dakwah Islam di fakultas dakwah, filsafat eknonomi Islam di fakultas ekonomi dan bisnis dan seterusnya.
INTEGRASI DAN INTERKONEKSI SEBAGAI METODOLOGI DALAM STUDI KEISLAMAN
Dalam sebuah forum dialog di TVRI Yogyakarta, penulis selaku rektor UIN Sunan Kalijaga ditanya oleh seorang pemirsa, bahwa berubahnya IAIN menjadi UIN adalah suatu pendangkalan ilmu agama. Pertanyaan mereka itu didasarkan pada fenomena bahwa penguasaan ilmu agama pada alumni UIN lebih rendah daripada alumni IAIN dulu. Pertanyaan itu juga pernah menjadi perdebatan yang panjang di kalangan akademisi IAIN ketika kita akan berubah menjadi UIN.
Di samping itu, pandangan bahwa ilmu keislaman adalah ilmu agama masih tetap kuat di kalangan masyarakat Islam sendiri, sehingga ilmu keislaman bagi mereka adalah ilmu-ilmu agama seperti yang ada di IAIN dulu, yaitu ushuluddin, dakwah, syariah, adab dan terbiyah. Sedangkan ilmu-ilmu di luar studi agama adalah bukan ilmu keislaman. Dengan kata lain, mereka sebenarnya masih berpandangan bahwa Islam adalah agama, bukan kebudayaan, sehinga sains dan teknologi sebagai bagian dari kebudayaan, tidaklah termasuk kajian keislaman.
Karena itu, paradigm integratif dan interkonektif menjadi sangat penting dan fundamental dalam merumuskan kajian-kajian keislaman, di mana posisi Islam sebagai nilai-nilai yang mendasar dan mengikat setiap kajian keislaman yang ada dalam berbagai aspek kebudayaan, baik kebudayaan sebagai sistem nilai, produk maupun eksistensi manusia dalam perjalanan hidupnya yang kompleks.
Dalam pandangan penulis, yang paling sulit dilakukan dalam usaha melakukan integrasi dan interkoneksi studi-studi keislaman adalah bagaimana merumuskan metodologinya. Upaya integrasi dan interkoneksi yang banyak dilakukan sekarang ini adalah mengintegrasikan dan menginterkoneksikan materi kajian dari studi studi keislaman dalam kajian ilmu-ilmu umum atau sebaliknya, seperti mengintegrasikan materi kajian kajian Islam, terutama Alquran dan Alhadits diintegrasikan dan diinterkoneksikan dengan bidang kajian-kajian ilmu-ilmu umum.
Konsep pohon ilmu ilmu keislaman (Prof Imam Suprayogo) serta konsep jaring labah-labah ilmu ilmu keislaman ( Prof Amin Abdullah) menurut pandangan penulis yang sempit ini, rasanya belum sampai merumuskan pada metodologinya. Integrasi dan interkoneksi model ini, seringkali diimplementasikan dengan melakukan integrasi infrastruktur fisik dan non fisik, termasuk material dan bahan ajar dalam pengembangan keilmuan dalam suatu konsep universitas.
Dalam pandangan Islam, sebenarnya tidak mengenal dualisme pendidikan dan dikhotomi keilmuan. Pendidikan harus dilakukan secara integratif, sehingga keragaman ilmu bisa saling menyapa dan menyatu dalam memecahkan persoalan kemanusiaan yang makin kompleks. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa masalah masalah kemanusiaan, seperti kesejahteraan, kemiskinan, kebahagiaan, keamanan dan perdamaian, tidaklah bisa dipecahkan dengan pendekatan tunggal keilmuan semata mata. Karena itu, pendekatan integratif dan interkonektif adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan yang semakin global ini.
Jika kita akan menempatkan integrasi dan interkoneksi sebagai suatu metodologi, maka dalam setiap jenjang pendidikan di UIN Suka baik S1, S2 maupun S3nya, bagaimana jabaran dalam kurikulumnya. Demikian juga halnya dalam berbagai fakultas yang ada, bagaimana integrasi dan interkoneksi sebagai metodologi dapat diimplementasi-kan dalam berbagai fakultas, sehingga sehingga masing-masing keilmuan yang dikembangkan oleh setiap fakultas berada dalam ikatan metodologi yang sama, yaitu integrasi dan interkoneksi.
Semoga bermanfaat wallahu a’lamu bishshowab.
(Disampaikan dalam rangka Seminar “Praksis Paradigma Integrasi Interkoneksi Ilmu dan Transformasi Islamic Studies”, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Convention Hall, 22-23 Oktober 2014)

Kamis, 09 Oktober 2014

Fakultas di UIN Sunan Kalijaga

Ini nih, Fakultas-fakultas yang ada di UIN Sunan Kalijaga

1. Adab dan Ilmu Budaya
2. Dakwah dan Ilmu Komunikasi
3. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
4. Syari'ah dan Hukum
5. Ushuluddin dan Pemikiran Islam
6. Sains dan Teknologi
7. Ilmu Sosial dan Humaniora
8. Ekonomi dan Bisnis Islam
9. Pascasarjana


Sumber : http://uin-suka.ac.id/

Selasa, 25 Februari 2014

Yang Terbaik, Yang Berbahaya


Khalid ar-Ruba’I mengisahkan, Luqman Hakim adalah seorang budak berkebangsaan Habasyah (Etiopia).

Pada suatu kesempatan sang majikan menyuruh Luqman menyembekih seekor kambing, seraya berkata; “Tunjukkan padaku dua bagian terbaik dari kambing ini!” 

Luqman segera menuruti perintah sang majikan dan menyerahkan dua potong daging berupa lidah dan hati. 


Pada kesempatan yang lain, sang majikan kembali menyuruh Luqman menyembelih kambing, seraya berkata; “Tunjukkan padaku dua bagian terburuk dari kambing ini!

Setelah menyembelihnya, Luqman segera menyerahkan dua potong daging yang merupakan bagian terburuk.

Sang majikan merasa heran karena dua bagian yang ditunjukkan Luqman kali ini tidak berbeda dengan yang sebelumnya, yaitu lidah dan hati. Ribuan tanda tanya pun segera menelusup ke dinding otak sang majikan, ia pun bertanya mengenai hal itu.

Untuk mengurai tanda tanya sang majikan, Luqman pun mencoba menjelaskan: “Tidak ada sesuatu yang lebih baik dari hati dan lidah jika keduanya baik. Begitu pula, tidak ada yang lebih buruk dari hati dan lidah jika keduanya buruk.

Jadi, bisa disimpulkan, semua itu tergantung manusianya. Jika digunakan untuk baik, maka akan berakhir dengan kebaikan. Dan begitu pun sebaliknya. 

Semoga bermanfaat :)

Kamis, 20 Februari 2014

Sekilas Info Tentang Luqman Hakim


Lukman Hakim hidup ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad Saw dilahirkan. tidak heran jika banyak perbedaan pendapat tentang beliau. Salah satunya mengenai nasabnya. Berikut ini beberapa pendapat mengenai nasab Lukman Hakim.

Menurut catatan sejarah Wahb: Lukman adalah putra dasri saudara perempuan Nabi Ayyub As. Menurut catatan sejarah Muqatil: Lukman adalah putra dari bibi Nabi Ayyub As.

Kebanyakan pakar sejarah mengatakan, Lukman adalah seorang hamba sahaya dari Habasyah (Etiopia). Sumber pendapat ini dari riwayat Ibn Abbas dan Imam Mujahid, yang dikutip oleh Ibnu Marduwaih dari Abi Hurairah. Ada pula pendapat yang mengatakan Lukman adalah seorang hamba sahaya dari negara Nauby (Nigeria).

Abu al-Musayyab berkisah, Lukman adalah seorang berkulit hitam dari bangsa Mesir, meski tubuhnya kecil, namun ototnya sangat perkasa. Lukman mendapat anugerah hikmah dari Allah, namun ia bukanlah seorang nabi.

Oleh karena itu, sering kali dikatakan nasihat kepada orng-orang berkulit hitam ;”Janganlah kau bersedih akan hitamnya kulitmu. Sesungguhnya, telah ada tiga orang dari bangsa kulit hitam yang menjadi kekasih Allah. Mereka adalah Bilal Ibn Rabbah, Mahja’ (budak yang dimerdekakan oleh Amr) dan Lukman Hakim. Lukman Hakim sangat beruntung mendapatkan anugerah berupa hikmah, kecerdasan, dan kefahaman.

Nah, sekarang kita mengetahui bahwa profil Lukman Hakim memang sangat bervariasi. Sudah dijelaskan, bahwa Lukman adalah seorang hamba sahaya, namun ada pula yang mengatakan bahwa Lukman bukanlah seorang hamba sahaya, melainkan seorang penjahit, atau tukang tebang kayu, atau seorang penggembala kambing.

Semoga bermanfaat

Jangan Sombong dan Bersikaplah Lembut


Lukman memberikan nasihat seperti berikut;

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman; 18)

Bersikap angkuh dan sombong bukanlah termasuk akhlak mulia, oleh karena itu, Lukman menasihati putranya agar tidak bersikap sombong kepada sesama. Bahkan, merasa lebih baik dari hewan sekalipun merupakan kesombongan yang dilarang agama. Jadi, sebagai mekhluk yang dikaruniai akal pikiran oleh Allah, kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah kepada kita, jangan malah merasa lebih baik dari makhluk lain.

Nasihat seklanjutnya yang diberikan oleh Lukman yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah agar bersikap lembut. Ini dalilnya:
وَاقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْآَصْوَتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman; 19)

Maksud dari sederhana dalam berjalan adalah tidak terlalu cepat atau terlalu pelan. Agar terlihat bagus dan anggun. Sedangkan suara keledai disebut sebagai suara yang sangat buruk karena menyerupai suara penghuni neraka.

Imam Sufyan ats-Tsauri menyebutkan “Sesungguhnya suara segala sesuatu mengandung tasbihguna mensucikan Allah, selain suara keledai.


Semoga bermanfaat  :)

Dikutip dari “Luqman Hakim Golden Ways, Cara Hidup Smart ala Luqman Hakim”.


Teguhkan Pendirian


Suatu hari, Luqman memberi contoh kepada putranya bahwa membuat orang lain lega itu sangat sulit. Begini ceritanya,,,,,,

Luqman menasehati putranya, “Wahai putraku! lakukanlah hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi agama dan duniamu. Terus lakukan hingga kau mencapai puncak kebaikan. Jangan pedulikan omongan dasn cacian orang. Sebab, takkan pernah ada jalan untuk membuat mereka semua lega dan terima. Takkan pula ada cara untuk menyatukan hati mereka.

Wahai putraku, datangkan seekor keledai kepadaku, dan mari kita buktikan.
Luqman bermaksud membuktikan kepada putranya, betapa sulitnya membuat semua orang lega dengan cara mengajak putranya jalan-jalan di tengah masyarakat. Apapun yang diperbuat, akan selalu ada yang menyalahkan, selalu ada saja yang tidak setuju.

Perjalanan mereka segera dimulai.
Luqman menaiki keledai, dan menyuruh anaknya berjalan menuntun keledai. Sekelompok orang yang menangkap pemandangan –yang menurut mereka- aneh tersebut, segera berkomentar mencaci:

Anak kecil itu menuntun keledai, sedang orang tuanya duduk nyaman di atas keledai. Alangkah congkak dan sombongnya orang tua itu.

Luqman pun berkata: “Putraku, coba dengar, apa yang mereka katakan.

Luqman lalu bergantian dengan putranya, kini giliran Luqman yang menuntun keledai, dan putranya naik di atasnya. Mereka melanjutkan perjalanan hingga beremu sekelompok orang. Tak pelak, orang-orang pun segera angkat bicara setelah menangkap pemandangan yang tak nyaman di mata mereka.

Lihatlah, anak kecil itu menaiki keledai, sementara orang tua itu malah berjalan kaki menuntunnya. Sungguh, alangkah buruknya akhlak anak itu.
Putraku, dengarlah apa yang mereka katakan.

Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Kali ini, keduanya menaiki kelaedai mungil itu. Mereka berdua terus berjalan hingga melewati sekelompok orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Lagi-lagi, meraka unjuk gigi saat melihat Luqman dan putranya.

Dua orang itu naik keledai berboncengan, padahal meeka tidak sedang sakit, mereka mampu berjalan kaki. Ahh, betapa mereka tak tahu kasihan pada hewan.” Sindir seseorang yang melihat Luqman.

Lihatlah apa yang mereka katakan wahai putraku!” Luqman kembali menasihati putranya.
Tanpa menghiraukan caci maki orang-orang itu, Luqman dan putranya kembali melanjutkan perjalanan. Terakhir kali, mereka berjalan kaki bersama, sambil menuntun keledai. 

Subhanallah! Lihat, dua orang itu menuntun keledai bersama, padahal keledai itu sehat dan kuat. Kenapa mereka tidak menaikinya saja? Ahh, betapa bodohnya mereka.

Dengarlah apa yang mereka katakana! Bukankah telah aku katakana padamu, lakukan apa yang bermanfaat bagimu, dan jangan kau hiraukan orang lain. Aku harap kau bisa mengambil pelajaran dari perjalanan ini.” Kata Luqman mengakhiri perjalanan bersama putranya,.

Nah, sudah tahu kan.. kalau kita harus punya pendirian yang kuat dan jangan hiraukan orang lain yang mengganggu.

Semoga bermanfaat.. :)


Dikutip dari “Luqman Hakim Golden Ways, Cara Hidup Smart ala Luqman Hakim”.

Selasa, 18 Februari 2014

5 Bahaya Mengancam Agama



Ini ada nasihat Lukman Hakim tentang 5 hal yang bisa mengancam agama..


جَهْدُ الْبَلَاءِ فِي الدِّيْنِ خَمْسُ خِصَالٍ : سُلْطَانٌ أَضَرَّ بِرَعِيَّتِهِ وَرَجُلٌ أَضَرَّتْ بِهِ امْرَأَتُهُ وَكَثْرَةُ الْعِيَالِ مَعَ قِلَّةِ الْمَالِ وَ صَدِيْقٌ يَلْقَاكَ مَرْحَبًا وَهُوَ يَمْشِيْ فِيْ هَلَاكِكَ وَجَارُ سُوْءٍ يَدْفَنُ حَسَنَاتِكَ وَ يُفْشِيْ سَيِّأَتِكَ

“Wahai putraku! Bahaya besar yang mengancam agama ada lima macam: Pemerintah yang berbuat lalim kepada rakyat. Lelaki yang diperbudak istrinya. Banyaknya sanak saudara, beserta sedikitnya harta. Sahabat yang bermuka ramah saat bertemu, namun berusaha mencelakai. Tetangga yang buruk, yang menyembunyikan kebaikan dan menyebar luaskan keburukan.”

Nisa diketahui bahwa ada 5 hal yang bisa mengancam agama, yakni yang pertama adalah pemerintah yang lalim kepada rakyat. Kedua, yakni seorang suami yang diperbudak istrinya, kalau zaman sekarang menyebutnya “suami-suami takut istri”, jangan sampai kita menjadi seorang istri yang berani menentang apalagi memperbudak suami. Bahaya yang ketiga adalah banyaknya saudara, tetapi tidak memiliki harta untuk menghidupi. Bahaya yang keempat adalah sahabat yang bermuka dua. Maksudnya, di depan kita dia bersikap baik, dan di belakang kita dia memusuhi kita, jangan jadi orang seperti itu yaa !! bahaya yang kelima yakni tetangga yang sukanya nggosip, tetangga yang sukanya hanya membicarakan keburukan orang. Na’udzubillah…

Semoga kita terhindar dari itu semua. Amiiiinn : )

Secuil wasiat Luqman al-Hakim


Sobat, nih saya tambahi tentang 10 nasihat Luqman al-Hakim yang tidak tertuang dalam al-Qur’an…

1. Wahai putraku! Juallah duniamu untuk membeli akhirat, niscaya kau kan dapatkan dua    keuntungan sekaligus.

2. Wahai putraku! Jadikanlah takwa kepada Allah sebagai perdagangan, maka keuntungan akan dating kepadamu meski tak berwujud benda.

3. Wahai putraku! Janganlah kau menyaksikan pesta pernikahan. Karena bisa membuatmu cinta kehidupan dunia dan lupa akan akhirat. Sebaliknya, saksikanlah upacara pemakaman jenazah. Sungguh hal itu bisa membuatmu benci akan dunia dan cinta kehidupan akhirat.

4. Wahai putraku! Jika rumahmu (hati) telah terjaga dan gedungmu (lisan;lidah) telah aman, maka sesungguhnyakau telah menjadi pemimpin dunia dan akhirat.

5. Wahai putraku! Jangan kau tenggelam dalam urusan dunia, sehingga membahayakan nasib akhiratmu. Namun, jangan pula kau tinggalkan dunia, sehingga kau repotkan orang lain.

6. Wahai  putraku! Jadikan dunia sebagai bekal. Gunakan kelebihan hartamu untuk membeli akhirat. Namun, jangan kau abaikan penghidupan dunia hingga kau hidup melarat. Karena, kau hanya akan menjadi beban berat orang lain. Puasalah sekadar untuk memecah syahwat, mengekang keinginan. Jangan puasa jika dapat mengurangi semangat shalat (ibadah) mu, karena shalat lebih utama dari puasa.

7. Sesungguhnya, banyak menyendiri dapat memunculkan ilham bagi fikiran. Dan sesungguhnya, banyak berfikir adalah tanda mengetuk pintu surga.

8. Wahai putraku! Sungguh dunia ini adalah lautan yang dalam. Sekian banyak sudah orang yang tenggelam di dalamnya. Oleh karenanya, jadikan iman sebagai bahtera, takwa sebagai penumpangnya, dan tawakkal sebagai layarnya, agar kau bisa selamat. Namun ketahuilah, aku tidak yakin kau bisa selamat.

9. Wahai putraku! Jangan kau tunda taubatmu, karena kematian dating secara tiba-tiba.

10. Wahai putraku! Sebagaimana kau tidur, begitulah engkau mati. Dan sebagaimana kau bangun, begitulah kau dibangkitkan kembali. Karena itu, lakukan kebaikan, niscaya kau akan tidur (mati), lalu bangkit laksana seorang pengantin. Janganlah kau berbuat keburukan, niscaya kau akan tidur (mati), lalu bangkit berselimut rasa takut, seperti pelanggar hokum yang menjadi buron untuk menjalani hukuman mati.

Semoga membawa manfaat untuk kita semua :