Para pakar sejarah mengenain predikat
Lukman Hakim berbeda-beda. Mainstream pakar sejarah mengatakan bahwa Lukman
Hakim bukanlah seorang nabi. Berbeda dengan pernyataan 'ikrimah dan asy-Syi'bi yang mengklaim bahwa Lukman adalah seorang nabi.
Pernyataan golongan mainsteam didukung oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar. Beliau menuliskan, “Lukman dan Maryam (ibunda Nabi Isa) bukanlah seorang Nabi, sebagaimana pernyataan mainstream pakar sejarah. Dan kita tidak perlu menghiraukan pendapat lain yang tidak sesuai.”
Pernyataan golongan mainsteam didukung oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar. Beliau menuliskan, “Lukman dan Maryam (ibunda Nabi Isa) bukanlah seorang Nabi, sebagaimana pernyataan mainstream pakar sejarah. Dan kita tidak perlu menghiraukan pendapat lain yang tidak sesuai.”
Imam an-Nawawi melanjutkan, “Lukman dan Maryam termasuk golongan
ash-Shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur dalam keimanan, I’tikad, dan
sikapnya). Derajat mereka berdua melebihi orang-orang yang mendapat gelar
rodliallohu ‘anhu/anha (yakni para sahabat nabi dan para wali kekasih Allah),
namun juga tidak mencapai derajat orang-orang yang mendapat gelar shollallohu ‘alaihi
wasallam (yakni para nabi dan rosul).” Namun menurut Imam an-Nawawi, pantas
saja jika saat mendengar nama mereka kita mengucap do’a rodliallohu ‘anhu/anha.
Pada sebuah kisah sejarah, konon Lukman mendapat tawaran
dari Allah bantara menerima wahyu kenabian, atau menerima hikmah. Lukman memilih
untuk menerima hikmah. Mengenai datangnya anugerah hikmah dari Allah yang
diterima oleh Lukman, ada satu kisah sejarah menyebutkan, suatu ketika Lukman
sedang tidur,ia mendengar seruan memanggil namanya;
“Wahai Lukman! Apakah
engkau mau manjadi manusia pilihan dan menjadi hakim di muka bumi ini?”
Lukman juga mendengar
jawaban yang tidak ia ketahui darimana asalnya;
“Jika Allah
memberikan kewenangan padaku untuk memilih, maka aku akan memilih ‘afiyah (kesehatan
dan keselamatan), dan aku tidak ingin mendapat bala dan siksa. Namun jika Allah
telah berkehendak pada atas suatu perkara, maka aku pun hanya bisa menerima dan
menjalankannya sepenuh jiwaku. Sebab aku yakin, jika Allah telah berkehendak
seauatu atas diriku, pasti Allah akan memberikan pertolongan dan perlindungan
padaku untuk menghadapi dan menjalaninya.”
“kenapa demikian?” Seorang malaikat bertanya
kepada Lukman.
Lukman menjawab,”Sebab,menjadi
seorang hakim adalah posisi yang sangat menyulitkan. Setiap hari ia didatangi
banyak orang yang madzhlum (teraniaya). Jika ia manolongnya, maka ia akan
selamat. Namun jika ia berbuat kesalahan sedikit saja, ia akan tersesat dari
jalan surge. Lagi pula di dunia, hina bisa saja lebih baik dari pada mulia. Dan
barang siapa yang memilih dunia seraya mengabaikan kehidupan akhirat, maka
sungguh ia akan kehilangan keduanya.”
Mendengar penuturan Lukman, malaikat merasa kagum lagi
heran. Selepas kejadian itu, Lukman pun bangun dan kini ia telah menguasai mutiara-mutiara
hikmah.
Nah, sekarang kita tahu bahwa Lukman bukanlah seorang nabi, melainkan seorang yang ahli hikmah. Semoga bermanfaat buat kita semua. Amiinnn :)
Nah, sekarang kita tahu bahwa Lukman bukanlah seorang nabi, melainkan seorang yang ahli hikmah. Semoga bermanfaat buat kita semua. Amiinnn :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar